Mengubah PC Kuno Menjadi Lab Mikrokontroler dan Linux – Bagian 1


Apakah PC Kuno itu?
Secara pribadi saya menggolongkan PC dengan prosesor XT-8088, AT-8086, AT-286, AT-386, AT-486, Pentium-I, dan Pentium-II sebagai PC Kuno. Saya tidak menggolongkan PC dengan prosesor Pentium-III ke dalam kategori ini karena menurut saya Pentium-III masih mampu mendukung sistem operasi modern seperti Windows 2000/XP, atau Linux dengan kernel dan desktop manager terbaru. PC Kuno adalah PC yang hanya dan hanya mampu mendukung  sistem operasi yang ‘kuno’ juga, contohnya DOS, Windows 3.1/95/98, Linux 2.0/2.2/2.4, atau Minix 1.0/1.5/2.0.

Mengapa PC Kuno?
Mengapa tidak? Hehehe… tidak sopan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Begini, alasan pertama adalah murah. Satu unit PC Pentium-I kini dapat dibeli seharga 200-300 ribuan rupiah. Sehingga siapapun kini tidak perlu lagi menunda belajar dengan alasan belum mampu membeli PC.

Alasan kedua adalah untuk memberikan nilai manfaat kepada PC Kuno. Jadi, semisal Anda hanya memiliki PC sekelas 386, 486, Pentium-I, atau Pentium-II warisan nenek moyang Anda, hal itu bukanlah halangan untuk belajar dan berkarya. Atau jika Anda memiliki PC Kuno di gudang atau pojok ruang kerja Anda, jangan sia-siakan mereka. Manfaatkan mereka dengan bijak. Mari jadikan PC Kuno menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Alasan ketiga adalah karena memungkinkan. Adalah hal yang memungkinkan untuk belajar dan berkarya dengan PC Kuno ditengah gemuruh perkembangan teknologi yang semakin canggih seperti sekarang ini. Adalah sangat memungkinkan untuk melakukan eksperimen dan menguasai linux dan embedded-system berbasis mikrokontroler dengan hanya menggunakan PC Kuno dan Linux.

Mengapa Mikrokontroler?
Mikrokontroler saat ini ada dimana-mana. Di handphone, jam tangan, dasbor mobil, televisi, MP3 player, microwave, dan lain sebagainya. Mikrokontroler sebagai jantung dari embedded-system merupakan materi wajib yang harus dipelajari oleh pecinta elektronika. Menguasai mikrokontroler dapat meningkatkan daya saing kita di bursa dunia kerja. Terlebih lagi, mikrokontroler tidaklah mahal. Satu keping mikrokontroler dapat kita beli dengan harga kisaran 15 ribu rupiah saja. Contohnya mikrokontroler ATMEL AVR ATmega8 harganya cuma 17.250 rupiah saja (sumber: http://www.digi-ware.com).

Hal terpenting pada sistem berbasis mikrokontroler selain hardware adalah firmware. Harga firmware terkadang sangat tinggi hingga sulit membayangkan bagaimana program bisa dihargai sedemikian tinggi. Gak percaya? Sama. Tapi cuplikan berikut ini mungkin bisa memberi gambaran mengenai hal ini.

Firmware is the most expensive thing in the universe. In his book Augustine’s Laws [6], Lockheed Martin’s Chairman Norman Augustine relates a tale of trouble for manufacturers of fighter aircraft.

By the late 1970s it was no longer possible to add things to these planes because adding new functionality meant increasing the aircraft’s weight, which would impair performance. However, the aircraft vendors needed to add something to boost their profits. They searched for something, anything, that weighed nothing but cost a lot. And they found it-firmware! It was the answer to their dreams.

The F-4 was the hot fighter of the 1960s. In 2007 dollars these airplanes cost about $20 million each and had essentially no firmware. Today’s F-22, just coming into production, runs a cool $333 million per copy. Half of that price tag is firmware.

The DoD contractors succeeded beyond their wildest dreams.

Tuh, mahal banget kan?😀

Mengapa Linux?
Karena Linux adalah sistem operasi modern yang flexible dan customable. Meskipun PC kita kuno, namun Linux yang terpasang (kernel 2.2 misalnya) sebenarnya tidak berbeda dengan sistem Linux (kernel 2.6 misalnya) yang terpasang di PC dengan prosesor Pentium-4. Keuntungan kita menggunakan Linux adalah, kita bebas mengutak-atik Linux untuk mendapatkan konfigurasi yang paling sesuai dengan PC kita. Namun demikian, jangan berharap PC Kuno bisa jalan cepat dengan Linux 2.6, kalau jalan ditempat itu baru mungkin, hahaha…😀

Bagaimana dengan DOS? DOS memang mudah dan lebih ringan dibanding Linux, akan tetapi DOS lebih obsolete dibandingkan dengan Linux. Dukungan Linux terhadap hardware pun jauh melebihi DOS, terutama masalah networking. Belum lagi masalah stabilitas sistem, Linux lebih unggul. Dan yang terpenting adalah Linux itu gratis. Fakta ini menjadikan alasan utama mengapa kita tidak menggunakan sistem operasi Windows 3.1/95/98. Saat ini, mempelajari Linux lebih berguna bagi kita daripada mempelajari DOS ataupun Windows 3.1/95/98.

Kalau Minix, Pak? Huf, Minix memang menarik. Awalnya bahkan saya sempat berpikir untuk menggunakan Minix saja. Akan tetapi Minix lebih banyak digunakan sebagai sarana belajar merancang sistem operasi sehingga masih jarang yang menggunakan Minix untuk bekerja. Walhasil, ketersediaan program-program aplikasi Minix masih jarang ditemukan di internet apalagi yang berhubungan dengan mikrokontroler. Apa mau buat sendiri semuanya? Itu mungkin saja kita lakukan, akan tetapi daripada waktu dan pikiran kita gunakan untuk mengembangkan program-program aplikasi untuk Minix, lebih baik kita gunakan untuk bereksperimen dengan Mikrokontroler dan Linux.

Setelah mencoba-coba FreeDOS, Minix, dan Linux dan mencoba melihat masa depan dari ketiganya, maka hanya satu pilihan yang menurut saya paling tepat, yakni Linux.

Nah, itulah beberapa mengapa yang melatar-belakangi proyek ini. Untuk langkah selanjutnya adalah memilih Distro Linux yang paling cocok untuk PC Kuno kita. Tungguin yaa…😀

Selamat belajar!

😀

9 comments

  1. GUN · April 15, 2010

    thnks bngt nich udah ngirimin……heheheh😀

  2. ABU THOLIB · Juli 22, 2010

    siipp.

  3. tino · November 7, 2010

    luar biasa artikelnya….

    • chandramde · November 7, 2010

      Terima kasih.😀

  4. Tius · November 9, 2010

    Apa distro Linux yang cocok untuk PC kuno? Ditunggu artikel selanjutnya.

    • chandramde · November 10, 2010

      Sebenarnya distro universal seperti Debian, RedHat, dan Slackware dengan kernel 2.2 atau 2.4 sangat cocok untuk PC kelas P-1 dan P2. Tergantung tujuannya juga, kalau untuk sekedar buat kerja desktop ringan dan hiburan, Damn Small Linux sangat cocok.

      Pada tulisan berseri ini saya menggunakan DeLi Linux. Silakan mengikuti serinya yang sudah sampai pada bagian ke-lima.

      Thank you for visiting.😀

  5. Syarif Hidayatullah · November 5, 2011

    sy juga punya P1….ada yang bisa bantu?biar bisa jadi “mkhluk hidup lagi”

  6. Kipas Besar · April 23, 2014

    keren banget bang

    • Chandra MDE · Oktober 25, 2014

      Komentarnya juga keren. Terima kasih.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s