Aplikasi Thermostat T101 Untuk Inkubator Penetas Telur Reptil
Tak hanya untuk inkubator penetas telur ayam, bebek, walet, atau jenis-jenis unggas/burung yang lain, Thermostat T101 dapat digunakan juga untuk pengontrol suhu pada inkubator penetas telur reptil.
Tak seperti pada telur unggas atau burung, telur reptil memiliki perlakuan yang berbeda. Tak hanya suhu, tapi juga kelembaban dan perlakuan fisik lainnya.
Yang unik juga, jenis kelamin dari telur yang ditetaskan diyakini juga tergantung pada kisaran suhu pada saat pengeraman telur reptil. Sehingga dengan mengontrol suhu pada kisaran tertentu, kita dapat mengharapkan anak-anak reptil dengan jenis kelamin tertentu sesuai dengan yang diharapkan.
Oleh karenanya kontroler suhu atau thermostat yang digunakan untuk inkubator penetas telur reptil harus mampu memonitor suhu dengan akurasi yang baik dan mengontrol suhu dengan simpangan yang kecil.
Dari beberapa permintaan yang saya layani, kontroler suhu harus dapat mengontrol suhu dengan range suhu 30-34 derajad Celcius dengan simpangan suhu antara 0,1 – 0,3 derajat Celcius.
Thermostat T101 merupakan kontroler suhu dengan nilai hysteresis yang dapat dipesan sesuai keinginan. Dari eksperimen bersama pengguna, Thermostat T101 dapat mengontrol output dengan baik dengan simpangan sekitar 0,3 derajat Celcius.
Untuk mendukung kinerja kontrol dengan simpangan yang kecil, maka diperlukan power driver yang baik untuk menggerakkan output heater atau lampu pijar.
Thermostat T101 menggunakan TRIAC sebagai power driver yang menggerakkan output heater atau lampu pijar. Dibandingkan dengan relay, TRIAC tidak menimbulkan spark pada saat kontak karena TRIAC bekerja secara elektronik dan tidak secara mekanik seperti halnya relay. Selain itu, untuk memproteksi rangkaian kontrol, digunakan juga optotriac sebagai coupling yang menghubungkan rangkaian kontroler dengan power driver, sehingga rangkaian kontroler bertegangan DC betul-betul terpisah dengan rangkaian bertegangan AC.
Jika Anda membutuhkan thermostat untuk mengontrol suhu pada inkubator penetas telur reptil, maka Anda dapat menggunakan Thermostat T101.
Untuk informasi harga dan pemesanan dapat langsung mengunjungi situsnya di: http://teknikelektrolinks.com.
Untuk informasi thermostat digital dengan simpangan yang dapat diatur hingga 0.1 derajat Celcius, silakan membaca tulisan tentang Thermostat Digital E103.
Selamat berkarya!
![]()
Thermostat E103 Kini Semakin Bagus Dengan Firmware Baru dan Fitur Baru
Thermostat E103 adalah salah satu produk dari Teknik Elektro Links (telinks) yang paling diminati oleh masyarakat. Thermostat digital dengan jangkauan display 00.0 hingga 99.9 ini telah banyak terjual mulai dari Aceh hingga Maluku, tinggal Papua yang belum…
Alhamdulillahirobbil ‘alamiin… ![]()
Thermostat E103 dirancang dengan tujuan memberikan solusi yang handal tapi ekonomis untuk aplikasi pengontrolan suhu. Sejak diluncurkan pada awal tahun 2011, produk ini telah banyak diaplikasikan pada berbagai sistem produksi yang membutuhkan pengontrolan suhu pada proses produksinya.
Berikut adalah aplikasi-aplikasi yang dapat diselesaikan dengan menggunakan Thermostat E103:
- Kontrol Suhu Inkubator Penetas Telur
- Kontrol Suhu Kolam Pemijahan Ikan
- Kontrol Suhu Bioreaktor
- Kontrol Suhu Akuarium Reptil
- Kontrol Pompa Air Pada Rumah Walet
- Kontrol Exhaust Fan Berbasis Suhu
- Kontrol Exhaust Fan/Alarm Pada Ruang Pemancar Radio FM
- Kontrol Exhaust Fan/Alarm Pada Ruang Server
- Kontrol Alarm Pada Oven Tembakau Manual
- Kontrol Kipas Radiator Mobil Berbasis Suhu
- Kontrol Suhu Pemanas Pakan Ternak
- Kontrol Suhu Pengembang Roti
- Kontrol Suhu Rumah Jamur
- Dan lain-lain (tunggu update-nya)
Kami telah melakukan beberapa pengembangan terhadap produk ini antara lain dengan merevisi layout pcb, merevisi firmware mikrokontroler, dan menambahkan fitur baru. Berikut adalah penjelasan singkat tentang revisi yang telah kami lakukan terhadap produk Thermostat E103.
- Layout PCB lebih baik sehingga proses pembuatan menjadi lebih cepat dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.
- Firmware mikrokontroler yang lebih baik untuk menghaluskan efek flicker pada display saat menampilkan suhu aktual dan saat memasuki mode pengesetan.
- Penambahan header/jumper sebagai selektor fungsi thermostat yakni fungsi HEATING atau COOLING.
Dengan revisi-revisi di atas, maka Thermostat E103 kini semakin baik dan semakin layak untuk diaplikasikan diberbagai sistem, baik sebagai pengontrol pemanas maupun pengontrol pendingin
Bagi Anda yang membutuhkan modul pengontrol suhu (thermostat) digital yang handal nan ekonomis, maka Thermostat E103 adalah jawabannya.
Untuk harga dan cara pemesanan dapat dilihat di situs resmi Teknik Elektro Links dengan alamat http://teknikelektrolinks.com.
Selamat berkarya!
![]()
Rangkaian Tombol Aktif-Low dan Contoh Program AVR-GCC dan Arduino
Jika Rangkaian LED Aktif-Low dan LED Aktif-High merupakan rangkaian sederhana dalam eksperimen mikrokontroler yang mewakili rangkaian output, maka rangkaian tombol aktif-low di samping adalah rangkaian sederhana yang mewakili rangkaian input dengan dua-kondisi yakni kondisi logika high dan kondisi logika low.
Rangkaian terdiri dari sebuah resistor yang diseri dengan sebuah tombol normally-opened (NO). Resistor berfungsi sebagai beban yang mencegah terjadinya hubung-singkat ketika tombol ditekan. Nilai resistor yang umum digunakan dalam level tegangan TTL adalah 10K ohm.
Prinsip kerja rangkaian sangat sederhana. Ketika tombol tidak ditekan, maka output berlogika 1 (HIGH). Dan ketika tombol ditekan, maka output berlogika 0 (LOW). Dengan rangkaian sederhana ini, kita dapat memberikan input berupa perubahan logika ke mikrokontroler dari logika 1 ke logika 0 sebagai sinyal bahwa tombol ditekan. Program mikrokontroler bertugas mendeteksi perubahan logika tersebut dan menjalankan aksi sesuai fungsi tombol tersebut. Pada bagian akhir tulisan ini akan diberikan contoh program sederhana pendeteksian penekanan tombol dengan aksi sederhana yakni menyalakan LED ketika tombol ditekan.
Bouncing Pada Tombol
Sesaat ketika tombol ditekan, ada kondisi dimana kontak tombol belum stabil dan oleh karenanya menghasilkan output logika yang belum stabil pula. Untuk mengatasi hal itu, maka perlu diberikan delay sesaat setelah terdeteksi perubahan logika dari HIGH ke LOW, dan melakukan pengecekan lagi terhadap tombol. Jika setelah delay tombol masih LOW, maka dapat dikatakan tombol telah ditekan secara stabil.
Berikut adalah pseudo-code untuk pendeteksian penekanan tombol aktif-low.
Jika (TOMBOL=LOW)
{
Delay_50_ms
Selama (TOMBOL=LOW)
{
Lakukan_Aksi
}
}
Resistor Pull-Up Internal Pada Mikrokontroler
Port I/O pada mikrokontroler memiliki resistor pull-up yang dapat diaktifkan sehingga dapat digunakan untuk menggantikan resistor pull-up R1 pada rangkaian di atas. Dengan demikian rangkaian tombol aktif-low di atas dapat disederhanakan seperti gambar rangkaian di samping.
Pada mikrokontroler AVR, jika bit DDRx diset 1 (pin yg bersangkutan berfungsi sebagai output) dan bit PORTx diset 1 (pin yang bersangkutan berlogika 1), maka resistor pull-up internal pada pin tersebut akan aktif.
Contoh Program Pendeteksian Tombol Aktif-Low (AVR-GCC)
Pada contoh program ini, rangkaian tombol aktif-low terhubung ke PORTB.0 (PB0), dan rangkaian LED aktif-high terhubung ke PORTB.1 (PB1).
#define F_CPU 1000000UL
#include
#include
#define ON 1
#define OFF 0
//macro LED ON/OFF untuk LED Aktif-High
#define LED_AH(x) ((x)==(ON) ? (PORTB|=_BV(PB1)) : (PORTB&=~_BV(PB1)))
int main(void)
{
PORTB = 0b00000001; //LED=OFF, Resistor Pull-up internal PB0 aktif
DDRB = 0b00000010; //PB1=OUTPUT, PB0=INPUT
while(1)
{
if (bit_is_clear(PINB, PB0)) //jika PB0 = LOW (tombol ditekan)
{
_delay_ms(50); //debouncing delay
while (bit_is_clear(PINB, PB0)) //selama tombol ditekan
{
LED_AH(ON); //LED = ON
//...
}
LED_AH(OFF); //LED = OFF
}
}
}
Contoh Program Pendeteksian Tombol Aktif-Low (Arduino)
Pada contoh program ini, rangkaian tombol aktif-low terhubung ke pin-11, dan rangkaian LED aktif-high terhubung ke pin-13.
int TOMBOL;
void setup()
{
pinMode(13, OUTPUT);
pinMode(11, INPUT);
digitalWrite(11, HIGH); //aktifkan resistor pull-up internal
}
void loop()
{
TOMBOL = digitalRead(11);
if (TOMBOL==LOW)
{
delay(50);
while(TOMBOL==LOW)
{
digitalWrite(13, HIGH);
TOMBOL = digitalRead(11);
}
digitalWrite(13, LOW);
}
}
Contoh-contoh program di atas dapat ditulis dengan lebih efisien jika tujuannya hanya menyalakan LED ketika tombol ditekan. Kedua contoh program di atas dapat langsung digunakan dan dikembangkan sesuai dengan aplikasi yang Anda buat. Program ditulis dengan lebih detail agar algoritma pendeteksian penekanan tombol aktif-low dapat lebih mudah dipahami.
Catatan: Nilai delay tidak harus 50ms. Nilai tersebut dapat diganti dengan 10ms, 20ms, 100ms, silakan bereksperimen sendiri.
Teknik pendeteksian penekanan tombol yang dibahas pada tulisan ini sangat boleh jadi bukanlah teknik yang terbaik, jadi tetaplah membaca dan bereksperimen.
Selamat belajar!
![]()
Rangkaian LED Aktif-Low dan LED Aktif-High dan Contoh Program Kontrol LED Untuk AVR-GCC dan Arduino
Perhatikan gambar di samping. Gambar sebelah kiri adalah rangkaian LED Aktif-Low, dan gambar sebelah kanan adalah rangkaian LED Aktif-High. Rangkaian terdiri dari sebuah resistor yang diseri dengan sebuah LED.
Pada rangkaian LED Aktif-Low, LED akan menyala jika diberi logika 0 (LOW) dan akan mati jika diberi logika 1 (HIGH).
Ketika diberi logika 0, maka tegangan pada kaki anoda LED lebih positif dibandingkan dengan kaki katoda. Selisih tegangan pada kaki anoda dan katoda LED ini melebihi tegangan jatuh LED, sehingga LED pun menghantar (dialiri arus listrik) dan menyala. Sebaliknya, ketika diberi logika 1, maka kaki anoda LED tidak lebih positif daripada kaki katoda, oleh karenanya LED tidak menghantar (tidak dialiri arus listrik) sehingga LED pun tidak menyala.
Pada rangkaian LED Aktif-High, LED akan menyala jika diberi logika 1 (HIGH) dan akan mati jika diberi logika 0 (LOW).
Ketika diberi logika 1, maka tegangan pada kaki anoda LED lebih positif dibandingkan dengan kaki katoda LED. Selisih tegangan pada kaki anoda dan katoda LED ini melebihi tegangan jatuh LED, sehingga LED pun menghantar (dialiri arus listrik) dan menyala. Sebaliknya, ketika diberi logika 0, maka tegangan pada kaki anoda LED tidak lebih positif daripada kaki katoda LED, oleh karenanya LED tidak menghantar (tidak dialiri arus listrik) sehingga LED pun tidak menyala.
Fungsi resistor seri pada rangkaian diatas adalah sebagai pembatas arus. Anda bisa menggunakan resistor dengan nilai yang aman mulai 150 ohm, 180 ohm, 220 ohm, hingga 2K2 ohm tergantung dari tipe LED yang Anda gunakan dan seberapa tingkat kecerahan yang Anda inginkan.
Dengan asumsi bahwa rangkaian LED Aktif-Low terhubung ke PORTB.0 dan rangkaian LED Aktif-High terhubung ke PORTB.1, berikut adalah contoh program kontrol LED untuk AVR-GCC.
Contoh Program Kontrol LED (AVR-GCC)
#define F_CPU 1000000L
#include <avr/io.h>
#include <util/delay.h>
#define ON 1
#define OFF 0
//macro LED ON/OFF untuk LED Aktif-Low
#define LED_AL(x) ((x)==(ON) ? (PORTB&=~_BV(PB0)) : (PORTB|=_BV(PB0)))
//macro LED ON/OFF untuk LED Aktif-High
#define LED_AH(x) ((x)==(ON) ? (PORTB|=_BV(PB1)) : (PORTB&=~_BV(PB1)))
int main(void)
{
PORTB = 0b00000001; //PB1=0, PB0=1 --> kedua LED OFF
DDRB = 0b00000011; //PB0 dan PB1 sebagai output
while(1)
{
LED_AL(ON); LED_AH(ON); //kedua LED ON
_delay_ms(500); //delay 1/2 detik
LED_AL(OFF); LED_AH(OFF); //kedua LED OFF
_delay_ms(500); //delay 1/2 detik
}
}
Contoh Program Kontrol LED (Arduino)
Dengan asumsi bahwa rangkaian LED Aktif-Low terhubung ke pin-11 dan rangkaian LED Aktif-High terhubung ke pin-12, berikut adalah contoh program pengendalian LED untuk Arduino.
void setup()
{
pinMode(11, OUTPUT); //pin-11 sebagai output
pinMode(12, OUTPUT); //pin-12 sebagai output
}
void loop()
{
digitalWrite(11, LOW); //LED Aktif-Low ON
digitalWrite(12, HIGH); //LED Aktif-High ON
delay(500); //delay 1/2 detik
digitalWrite(11, HIGH); //LED Aktif-Low OFF
digitalWrite(12, LOW); //LED Aktif-High OFF
delay(500); //delay 1/2 detik
}
Rangkaian LED Aktif-Low dan Aktif-High merupakan rangkaian yang sangat penting dalam bereksperimen mikrokontroler. Tak hanya karena murah dan mudah dirangkai, tapi kedua rangkaian tersebut dapat mewakili berbagai macam rangkaian output, baik yang aktif-low maupun yang aktif-high seperti relay, buzzer, motor, dan solenoid. Selanjutnya tinggal mempelajari dan memahami berbagai macam rangkaian driver output.
Selamat belajar!
![]()
Assalamu'alaikum... Namaku 



Recent Comments